Khutbah Jum'at tentang Akhlak Mulia


الْحَمْدُ للهِ. اَلْحَمْدُ للهِ. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى هَدَانَا لِهذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْ لاَ أَنْ هَدَانَا اللهُ. وَ مَا تَوْفِيقِي وَ لاَ اعْتِصَامِي إِلاَّ بِاللهِ. عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَ إِلَيْهِ أُنِيبُ.
أَشْهَدُ أنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ. اَلَّذِى لاَ أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْهِ. هُوَ كَمَا أَثْنَي عَلَى نَفْسِهِ. عَزَّ جَارُهُ وَ جَلَّ ثَنَاؤُهُ وَ لاَ يُهْزَمُ جُنْدُهُ وَ لاَ يُخْلَفُ وَعْدُهُ وَ لاَ إِلهَ غَيْرُهُ.
وَ أَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَ سَنَدَنَا وَ مَوْلاَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ و حَبِيْبُهُ وَ رَسُولُهُ. اَلسَّابِقُ إِلَى الأَنَامِ نُورُهُ. وَ رَحْمَةٌ لِلْعَالَمِينَ ظُهُورُهُ. صَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَ عَلَى آلِهِ وَ أَوْلاَدِهِ وَ أَزْوَاجِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ أَتْبَاعِهِ وَ أَحْفَادِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللهِ؛
اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَ أَطِيعُوهُ. إِنَّ اللهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَ الَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ. فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ:
أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.  بِسْــمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم.
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا.
صَدَقَ اللهُ العَظِيْمُ..
Hadirin kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allah..
          Pertama-tama, saya ingin mengajak saudara semua dan juga diri saya sendiri, untuk bersama-sama meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, karena takwa adalah bekal kita menuju alam akhirat nanti sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah SWT:
وتَزَوَّدُوا فإن خيرَ الزَّاد التَّقوَى
“Maka berbekallah kalian, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa”. (Al-Baqarah 197)
Kemudian pada kesempatan kali ini, khatib akan menyampaikan khutbah tentang Keutamaan Akhlak Mulia.
         
Hadirin yang dimuliakan oleh Allah..
          Seorang Muslim yang baik, bukanlah seseorang yang hanya baik hubungannya dengan Allah saja, namun muslim yang baik adalah muslim yang baik hubungannya dengan Allah, baik hubungannya dengan sesama manusia dan baik juga hubungannya dengan makhluk Allah lainnya, dalam artian ia bahkan tidak berlaku zalim terhadap hewan maupun tumbuhan. Maka, seorang muslim yang baik bukanlah muslim yang menghabiskan 24 jamnya beribadah seorang diri, lantas melupakan kewajibannya kepada keluarganya, memutuskan hubungan dengan sanak kerabatnya dan tidak bergaul dengan orang di sekitarnya. Muslim yang baik adalah muslim yang bisa menjaga hubungannya dengan Allah namun juga tetap menjaga hubungan baiknya dengan orang-orang sekitarnya.
          Kemudian di dalam hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya, seorang muslim dituntut untuk berakhlak baik, karena saking pentingnya akhlak yang baik ini, sampai-sampai Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda :
إنما بُعِثتُ لأُتَمم مكارم الأخلاق
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak terpuji”. (HR. Baihaqi)

Di dalam hadis lainnya Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda :
" أكملُ المؤمنين إيمانا أحسنُهم خلقا "
“Sebaik-baik orang Mu’min adalah yang paling baik akhlaknya”. (HR. Ibn Hibban)

Saudara-saudara kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah...
Di dalam sebuah hadis shahih yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Tirmizi dan Ibnu Majah disebutkan bahwa Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda :
" أَنَا زَعِيْمٌ بِبَيْتٍ فِيْ رَبَضِ الجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا ، وَبِبَيْتٍ فِيْ وَسَطِ الجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِيْ أَعْلَى الجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ "
“Aku menjamin sebuah rumah di punggung Surga bagi orang yang menghindari pertengkaran walaupun ia berada dalam posisi yang benar; aku juga menjamin sebuah rumah di pertengahan Surga bagi orang yang meninggalkan kebohongan walaupun ia sedang bercanda; dan aku juga menjamin sebuah rumah di puncak Surga bagi orang yang memperbaiki akhlaknya”.
Di sini Rasulullah mengajarkan kita untuk bersabar dan tidak marah. Kita tahu, biasanya ketika terjadi perselisihan antara 2 orang, suasana memanas, sangat sulit sekali untuk menahan diri untuk tetap diam dalam keadaan tenang, apalagi jika kita merasa sedang berada pada posisi yang benar, naiklah darah kita dan mulailah kita bersumpah-serapah sambil beradu mulut dengan lawan bicara kita. Namun Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk tetap bersabar dan menghindari segala bentuk pertikaian dan pertengkaran sekalipun kita berada di dalam posisi yang benar.
Beliau juga mengajarkan kita agar tidak berbohong sekalipun ketika sedang bercanda. Terkait masalah ini, dalam sebuah hadis disebutkan bahwa suatu ketika, ada seorang wanita tua yang menghampiri Rasulullah SAW dan meminta beliau untuk mendoakannya agar masuk Surga, sambil tersenyum Rasulullah SAW pun menjawab " لَا يَدْخُلُ الجَنَّةَ عَجُوْزٌ " yang artinya :“Tidak akan masuk Surga orang-orang yang sudah tua”. Mendengar ini, perempuan tua ini pun bersedih. Lantas Rasulullah pun segera menyuruh para Sahabatnya untuk menerangkan kepada perempuan itu bahwa di hari akhirat nanti ia tidak akan dibangkitkan dalam keadaan tua, melainkan ia akan dikembalikan muda kembali.[1]
Demikianlah kemuliaan akhlak Rasulullah, di dalam candanya pun beliau tetap menyampaikan kebenaran. Ketika beliau mengatakan “Orang-orang tua tidak akan masuk Surga”, beliau tidak berbohong karena memang benar di Surga nanti tidak akan ada orang tua karena semua orang akan dibangkitkan dalam keadaan muda kembali. Maha benar Allah yang telah memuji akhlak Rasulullah di dalam Al-Qur’an :
وَإِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS. Al-Qalam : 4)

Hadirin yang dimuliakan oleh Allah...
Salah satu akhlak mulia yang diajarkan oleh Rasulullah adalah berkasih-sayang sesama makhluknya. Suatu ketika seorang sahabat melihat nabi mencium cucunya, Hasan b. Ali. Sahabat itu pun berkata: “Aku memiliki 10 anak, namun tak ada satu pun yang pernah aku cium”. Mendengar ini, Rasulullah pun menatap sahabat itu lantas bersabda:
 “مَنْ لَا يَرحمْ لَا يُرحَمْ
Orang yang tidak menyayangi, tidak akan disayang”. (HR. Bukhari - Muslim)

Dalam hadis lainnya beliau juga bersabda :
 “مَنْ لا يرحَمِ الناسَ لا يَرحمه الله
“Tidak akan disayang oleh Allah, orang yang tidak menyayangi manusia”
          Kemudian di dalam Islam, kasih sayang itu bahkan tidak hanya terbatas pada manusia saja, karena di dalam Islam kita juga dituntut untuk menyayangi makhluk Allah lainnya baik hewan maupun tumbuhan. Di dalam sebuah hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Seorang perempuan disiksa (di dalam neraka) lantaran mengurung seekor kucing, karena ia tidak memberi makan hewan itu, tidak memberinya minum dan tidak pula melepasnya supaya ia bisa mencari makan”.
Di dalam hadis shahih yang lainnya juga disebutkan bahwa seorang perempuan pezinah diampuni dosa-dosanya lantaran ia memberi minum seekor anjing yang kehausan, yang menjulurkan lidahnya berusaha untuk meminum air dari sebuah sumur.[2]
          Maka dengan demikian, jelaslah bagi kita bahwa cinta dan kasih sayang itu merupakan sebuah budi pekerti yang sangat penting di dalam Islam, karena Islam bagaikan sebuah bangunan dengan 3 pondasi, maka tatkala hilang salah satu pondasi itu, tumbanglah bangunan itu. Adapun pondasi itu adalah Iman, Amal Sholeh dan Akhlakul Karimah. Maka dengan demikian, Kalimah Syahadat yang merupakan syarat diterimanya Iman seseorang, belum lengkap jika tidak diiringi oleh amal Sholeh seperti Sholat, Puasa dan Zakat, namun amal-amal Sholeh itu pun juga tidak lengkap jika tidak diiringi dengan akhlak mulia, karena Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda :
" إن المؤمنَ لَيُدركُ بحسن خُلقه درجةَ الصائم القائم "
“Sesungguhnya seorang mukmin, dengan akhlak baiknya, benar-benar (mampu) mencapai derajat orang-orang yang rajin berpuasa dan rajin sholatnya”. (HR. Abu Daud)
          Maka marilah kita bersama-sama memperbaiki akhlak kita, bersama-sama menanamkan niat di dalam diri kita untuk menjadi muslim yang lebih baik lagi, muslim yang mencintai sesama, yang  selalu menebarkan kebaikan di manapun berada...

أَلاَ إِنَّ أَحْسَنَ الْكَلاَمِ وَ أَبْلَغَ النِّظَامِ. كَلاَمُ اللهِ الْمَلِكِ الْعَزِيزِ الْعَلاَّمِ. كَمَا قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالَى فِي الْكَلاَمِ. وَ إِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ. وَ أَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ. أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. بِسْـمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. إنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللهِ الإِسْلَامُ.

××××××××××××××××××××××××××××××××××××××××××××××××××××××
(Khatib duduk di antara 2 khutbah)
××××××××××××××××××××××××××××××××××××××××××××××××××××××

الحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَشْكُرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ . أمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ فَإِنِّي أُوْصِيْ نَفْسِيَ وإيّاكمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ.
وَاعْلَمُوْا أنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ : ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾
اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِناَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى ءَالِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى ءَالِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اللهمَّ ارضَ عن الأربعةِ الخلفاءِ، سيِّدِنا أبي بكرٍ و عُمرَ و عُثمانَ و عليٍّ ذَوِي الصِّدق والوَفاء، وبَقِيةِ العشَرة المبَشَّرةِ و آلِ بَيْتِ المصطَفى وعن الأنصارِ و المهاجرينَ و التابعين إلى يوم الجزاء، اَللَّهُمَّ إِنَّا دَعَوْناكَ فَٱسْتَجِبْ لَنَا دُعاءَنَا. فَٱغْفِرِلَنا ذُنوبَنَا وَإِسْرافَنا في أَمْرِنا. اللهمَ اغفِر للمؤمنين والمؤمنات، والمسلِمِين والمسلِمَاتِ الأحياءِ مِنْهم والأمواتِ، برحمَتِك يا أرحَمَ الراحمين، وسلامٌ على المرسلين، والحمدُ للهِ رَبِّ العالمين... 
عِبادَ اللهِ!
إِنَّ اللهَ يَاْمُرُ بِالْعَدْلِ وَ الإِحْسَانِ وَ إِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَي
Sesungguhnya Allah menyuruh untuk berlaku adil dan berbuat kebajikan dan memberi kepada kaum kerabat.
وَ يَنْهَي عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرِ وَ الْبَغْيِ
Dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.

يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
Dia memberi pengajaran kepadamu, agar kamu dapat mengambil pelajaran.

فَاذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ،  وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ،  وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ،  وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.. أَقِمِ الصَّلاةَ..




[1] Lihat Al-Ba’tsu Wan Nusyur Lil Baihaqi.
[2] HR. Muslim 4259.


* Khutbah ditulis oleh Jaini Mukhlis, BA

(Lihat kumpulan khutbah lainnya di sini)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Khutbah Jum'at tentang Akhlak Mulia"

Posting Komentar