Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Selayang Pandang : Mengenal Pondok Modern Darussalam Gontor (1)

Suasana Sholat Idul Adha di Gontor - Sumber: www.gontor.ac.id

Sebagai salah satu pesantren terbesar di Indonesia, Pondok Modern Darussalam Gontor yang saat ini memiliki sekitar 24 ribu santri, sudah dikenal luas di tanah air. Para alumninya bertebaran di mana-mana. Sebut saja Dr. Idham Chalid (Mantan Wakil Perdana Menteri RI, Pahlawan Nasional), Dr. Muhammad Maftuh Basyuni (Mantan Menteri Agama RI), Dr. Hidayat Nur Wahid (Wakil Ketua MPR RI & Mantan Ketua MPR RI), Dr. K.H. Hasyim Muzadi (Anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Mantan Ketua Umum PBNU), Lukman Hakim (Menteri Agama era Jokowi JK), Prof. Dr. Nurcholis Madjid (Cendekiawan Muslim), Prof. Din Syamsuddin (Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah dan MUI), Adnan Pandu Praja (Mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi), dan masih banyak lagi nama-nama alumni yang sudah dikenal baik di Indonesia.


Gontor yang sejak awal berdirinya memegang teguh falsafah “Berdiri di atas dan untuk semua golongan” ini adalah pesantren yang dikenal dengan ketidak terikatannya dengan organisasi politik maupun kemasyarakatan manapun, karena itu kita bisa melihat adanya keberagaman background ormas dan politik para alumninya setelah mereka lulus dari Gontor. Hal itu bisa terjadi karena Gontor tidak pernah menggiring santri-santrinya untuk mendukung salah satu golongan atau kelompok tertentu.

Selain itu Gontor juga dikenal dengan sistem pendidikannya yang mandiri, serta khas. Alih-alih menginduk kepada kurikulum pendidikan Nasional layaknya sekolah-sekolah pada umumnya, Gontor malah memiliki kurikulum sendiri yang dinamakan Kulliyyatul Muallimin Al-Islamiyyah (KMI).

KMI adalah jenjang pendidikan yang setingkat dengan Tsanawiyah dan Aliyah. Masa belajarnya adalah 4 tahun untuk kelas Intensif dan 6 tahun untuk kelas biasa. Dengan kurikulum KMI-nya ini, Gontor menentukan sendiri silabus pendidikan serta materi ajar yang akan disampaikan kepada para santrinya tanpa terikat dengan kurikulum yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia.

Adapun di jenjang selanjutnya Gontor juga memiliki universitas yang bernama UNIDA Gontor (Universitas Darussalam Gontor), yang saat ini memiliki 9 fakultas.

Namun sebenarnya, selain 2 lembaga pendidikan tadi, yang paling berpengaruh dalam pembentukan karakter santri-santri Gontor adalah Milieu atau lingkungan belajar serta rutinitas harian para santrinya, karena menurut Gontor, semua yang santri lihat, semua yang santri dengar, dan semua yang santri rasakan adalah pendidikan. Karena itulah semua aktifitas yang santri jalani dari bangun hingga tidur kembali telah diatur sedemikian rupa sehingga pendidikan menjadi lebih maksimal.


Selain itu di Gontor juga ditanamkan falsafah-falsafah hidup yang tertancap kuat di sanubari para santrinya, misalnya: Berani hidup tak takut mati, takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja (KH. Ahmad Sahal); Andaikata muridku tinggal satu, akan tetap kuajar, yang satu ini sama dengan seribu, kalaupun yang satu ini pun tidak ada, aku akan mengajar dunia degan pena; Berjasalah tapi jangan minta jasa; Kamu adalah orang-orang yang berharga, tapi jangan minta dihargai, kalau minta dihargai harga dirimu habis sepeser pun tidak ada. (KH. Imam Zarkasyi), dan masih banyak lagi pesan-pesan Kyai yang selalu terngiang-ngiang di telinga para santri, bahkan masih mereka ingat setelah menjadi alumni sekalipun.

Saat ini, Pondok yang berpusat di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur ini memiliki sekitar 24 ribu santri yang tersebar di berbagai cabangnya. – Bersambung.



Video-video aktifitas santri di Pondok Modern Gontor

Ramainya Santri Gontor Keluar Masjid


Suasana 'Pengadilan Bahasa' di Gontor


Posting Komentar untuk "Selayang Pandang : Mengenal Pondok Modern Darussalam Gontor (1)"