Mahfudzot Kelas 5 KMI Gontor Beserta Arti dan Penjelasannya (9)
لِمَحْمُوْدٍ سَامِي بَاشَا البَارُوْدِي (المُتَوَفَّى سَنَةَ ١٩٠٤ م)
شَاعِرٌ مِصْرِيٌّ يُعَدُّ مِنْ رُوَّادِ الشِّعْرِ العَرَبِيِّ الحَدِيْثِ
Karya Mahmud Sami Pasha al-Barudiy (Wafat Tahun 1904 M) Penyair Mesir yang Dianggap Pelopor Kebangkitan Puisi Arab Modern
وَالدَّهْرُ كَالبَحْرِ لاَ يَنْفَكُّ ذَا كَدَرٍ # وَإِنَّمَا صَفْوُهُ بَيْنَ الوَرَى لُمَعُ
لَوْ كَانَ لِلْمَرْءِ فِكْرٌ فِي عَوَاقِبِهِ # مَا شَانَ أَخْلَاقَهُ حِرْصٌ وَلاَ طَمَعُ
وَكَيْفَ يُدْرِكُ مَا فِي الغَيْبِ مِنْ حَدَثٍ # مَنْ لَمْ يَزَلْ بِغُرُوْرِ العَيْشِ يَنْخَدِعُ
دَهْرٌ يَغُرُّ وَآمَالٌ تَسُرُّ وَأَعْمَالٌ # تَمُرُّ وَأَيَّامٌ لَهَا خُدَعُ
يَسْعَى الفَتَى لِأُمُوْرٍ قَدْ تَضُرُّ بِهِ # وَلَيْسَ يَعْلَمُ مَا يَأْتِي وَمَا يَدَعُ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ السَّادِرُ المُزْوَرُّ مِنْ صَلَفٍ # مَهْلاً فَإِنَّكَ لِأَيَّامٍ مُنْخَدِعُ
دَعْ مَا يُرِيْبُ وَخُذْ فِيْمَا خُلِقْتَ لَهُ # لَعَلَّ قَلْبَكَ لِلْإِيْمَانِ يَنْتَفِعُ
إِنَّ الحَيَاةَ لَثَوْبٌ سَوْفَ تَخْلَعُهُ # وَكُلُّ ثَوْبٍ إِذَا مَا رَثَّ يَنْخَلِعُ
Terjemahan:
Zaman itu bagaikan lautan yang tak pernah berhenti bergelombang keruh,
dan jernihnya ia di antara manusia hanyalah kilauan sesaat.
Andai seseorang mau memikirkan akibat dari perbuatannya,
niscaya tak akan merusak akhlaknya rasa serakah dan tamak.
Bagaimana bisa memahami apa yang tersembunyi di balik takdir,
seseorang yang masih terus-menerus terlena oleh tipu daya kehidupan.
Zaman yang menipu, harapan-harapan yang menyenangkan, amal-amal yang berlalu begitu saja,
dan hari-hari yang penuh jebakan.
Seorang pemuda berusaha keras mengejar banyak hal yang justru bisa membahayakan dirinya,
sementara ia tidak tahu apa yang sebaiknya ia ambil dan apa yang sebaiknya ia tinggalkan.
Wahai manusia yang tenggelam dalam kelalaian dan sombong dengan kesombongannya,
bersabarlah, karena sesungguhnya engkau sedang tertipu oleh hari-harimu sendiri.
Tinggalkanlah apa yang meragukanmu, dan ambillah apa yang memang kau diciptakan untuknya,
semoga hatimu mendapatkan manfaat dari keimanan.
Sesungguhnya kehidupan ini bagaikan pakaian yang kelak pasti akan kau tanggalkan,
dan setiap pakaian, jika sudah usang, pasti akan terlepas juga.
Syarah / Penjelasan dan Kesimpulan:
Tentang Mahmud Sami al-Barudiy
Mahmud Sami al-Barudiy (1839–1904 M) adalah seorang penyair sekaligus tokoh militer dan politik Mesir yang hidup di masa kekuasaan Khedive, penguasa Mesir di bawah naungan Turki Usmani yang mulai goyah akibat tekanan Barat. Ia dikenal sebagai "bapak kebangkitan puisi Arab modern" karena berhasil menghidupkan kembali gaya syair Arab klasik yang kuat dan bermartabat di tengah masa kemunduran sastra.
Kata al-Barudiy sendiri berasal dari kata bārud (بارود) yang berarti "mesiu" atau "bubuk senjata", yang cukup menggambarkan kepribadiannya: keras, tegas, dan berapi-api. Ia pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Mesir, namun akhirnya diasingkan ke Sri Lanka selama hampir dua puluh tahun akibat keterlibatannya dalam pemberontakan Urabi melawan Inggris. Di tempat pengasingan itulah banyak syair terbaiknya lahir, termasuk syair-syair yang penuh renungan tentang dunia, waktu, dan hakikat hidup.
Syair yang ada dalam Mahfudzot ini adalah salah satu cerminan dari perenungannya yang dalam selama bertahun-tahun jauh dari tanah air.
Bait Pertama: Dunia Tidak Pernah Benar-benar Jernih
Zaman itu bagaikan lautan yang tak pernah berhenti bergelombang keruh, dan jernihnya ia di antara manusia hanyalah kilauan sesaat.
Al-Barudiy membuka syairnya dengan metafora lautan. Kata kadar (كَدَرٍ) berarti kekeruhan atau keguncangan, sedangkan luma' (لُمَعُ) berarti kilatan atau percikan cahaya sesaat, seperti pantulan sinar matahari di permukaan ombak yang bergerak.
Dunia memang begitu adanya. Kesenangan dan ketenangan yang kita rasakan seringkali hanyalah luma', kilatan singkat di tengah lautan yang pada dasarnya selalu bergolak. Seseorang yang memahami ini tidak akan terlalu bersedih ketika kesenangan itu berlalu, dan tidak akan terlalu terlena ketika ketenangan itu datang.
Al-Quran sendiri sudah jauh lebih dulu menggambarkan hal ini:
وَمَا الحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الغُرُوْرِ
"Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (QS. Ali Imran: 185)
Bait Kedua: Keserakahan Lahir dari Pendeknya Pikiran
Andai seseorang mau memikirkan akibat dari perbuatannya, niscaya tak akan merusak akhlaknya rasa serakah dan tamak.
Ini adalah bait yang sangat tajam. Al-Barudiy mengatakan bahwa hirs (حِرْصٌ : keserakahan) dan thama' (طَمَعُ : ketamakan) sebenarnya bukan sekadar soal moralitas buruk, melainkan soal ketidakmampuan berpikir jauh ke depan. Orang yang serakah itu, menurut al-Barudiy, adalah orang yang tidak mau berpikir tentang 'awaqib, akibat dan konsekuensi.
Kalau seorang pejabat mau benar-benar memikirkan akibat dari korupsi yang ia lakukan, seperti kerusakan yang ditimbulkan, hukuman yang menanti, kehinaan di mata masyarakat dan di hadapan Allah, maka ia tidak akan berani melakukannya. Keserakahan tumbuh subur di lahan yang tidak pernah disiram oleh pikiran panjang.
Bait Ketiga dan Keempat: Terlena Membuat Kita Buta
Bagaimana bisa memahami apa yang tersembunyi di balik takdir,
seseorang yang masih terus-menerus terlena oleh tipu daya kehidupan.
Zaman yang menipu, harapan-harapan yang menyenangkan, amal-amal yang berlalu begitu saja, dan hari-hari yang penuh jebakan.
Dua bait ini saling berkaitan. Al-Barudiy menggambarkan sebuah lingkaran setan: zaman menipu (yaghurru), harapan menyenangkan tapi sering kali palsu (tasurru), amal berlalu begitu saja tanpa bekas (tamurru), dan hari-hari datang dengan jebakan-jebakan tersembunyi (khuda').
Kata ghurur (غُرُوْر) yang muncul di bait ketiga berarti "tipuan" atau "terlena." Ini adalah kata yang juga Allah gunakan dalam Al-Quran untuk menggambarkan esensi kehidupan dunia. Dan memang, orang yang terlena oleh ghurur kehidupan akan kehilangan kemampuannya untuk membaca tanda-tanda, di mana ia tidak lagi bisa membedakan mana yang penting dan mana yang hanya ilusi.
Ada kalanya kita lupa bahwa banyak hal yang kita kejar dengan sekuat tenaga hari ini, sepuluh tahun kemudian bahkan kita sendiri tidak ingat lagi mengapa dulu hal itu terasa begitu penting.
Bait Kelima: Manusia Sering Tidak Tahu Apa yang Baik untuknya
Seorang pemuda berusaha keras mengejar banyak hal yang justru bisa membahayakan dirinya, sementara ia tidak tahu apa yang sebaiknya ia ambil dan apa yang sebaiknya ia tinggalkan.
Di bait ini Al-Barudiy tidak menghakimi, ia hanya menggambarkan kondisi yang sangat umum, di mana manusia berusaha keras (yas'ā) tapi arah usahanya keliru, dan yang paling tragis adalah ia tidak menyadarinya.
Dalam ilmu tasawuf, kondisi ini disebut dengan ghaflah (kelalaian). Di mana seseorang sibuk bergerak, tapi sibuk menuju arah yang salah. Ia lelah, tapi kelelahannya tidak menghasilkan apa-apa yang bermakna. Karena itu ulama-ulama sufi selalu menekankan pentingnya muraqabah, yaitu kesadaran penuh atas setiap langkah yang kita ambil.
Bait Keenam: Teguran Langsung
Wahai manusia yang tenggelam dalam kelalaian dan sombong dengan kesombongannya, bersabarlah karena sesungguhnya engkau sedang tertipu oleh hari-harimu sendiri.
Kata sādir (السَّادِرِ) berarti orang yang tenggelam atau tersesat dalam kelalaian, sementara muzwarr (المُزْوَرُّ) berarti orang yang memalingkan muka, yang dalam konteks ini berarti memalingkan diri dari kebenaran karena shalaf (صَلَفٍ), yaitu kesombongan dan keangkuhan.
Di sini al-Barudiy seolah berdiri dan memanggil langsung: "Wahai kamu!" Ini bukan lagi sekadar puisi, ini adalah semacam teguran. Dan teguran ini bukan untuk orang jahat atau penjahat, melainkan untuk manusia biasa yang lalai. Karena dalam pandangan al-Barudiy, kelalaian biasa yang dibiarkan berlarut-larut itu jauh lebih berbahaya daripada kejahatan yang disadari.
Bait Ketujuh: Solusi yang Ditawarkan
Tinggalkanlah apa yang meragukanmu, dan ambillah apa yang memang kau diciptakan untuknya, semoga hatimu mendapatkan manfaat dari keimanan.
Setelah tujuh bait menggambarkan kondisi manusia yang terlena, al-Barudiy akhirnya memberikan arah. Dan solusinya singkat tapi dalam: da' mā yurīb : tinggalkan apa yang meragukanmu.
Kalimat ini mengingatkan pada sabda Rasulullah SAW:
دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ
"Tinggalkanlah apa yang meragukanmu menuju apa yang tidak meragukanmu." (HR. Tirmidzi)
Lalu disambung dengan "ambillah apa yang memang kau diciptakan untuknya" — yang dalam banyak tafsiran para ulama merujuk pada ibadah dan ketaatan kepada Allah, karena Allah sendiri berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الجِنَّ وَالإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ
"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. adz-Dzariyat: 56)
Bait Kedelapan: Penutup yang membuat kita termenung
Sesungguhnya kehidupan ini bagaikan pakaian yang kelak pasti akan kau tanggalkan, dan setiap pakaian, jika sudah usang, pasti akan terlepas juga.
Al-Barudiy menutup syairnya dengan metafora yang sangat sederhana tapi langsung menghujam, beliau menggunakan permisalan sebuah pakaian. Di mana semua orang tahu bahwa pakaian, sehebat apapun kualitasnya, pada akhirnya akan usang dan terlepas. Begitu pula kehidupan ini.
Kata ratstsa (رَثَّ) berarti usang, lusuh, atau lapuk karena dimakan waktu. Al-Barudiy memilih kata ini dengan sangat tepat, ia tidak berkata "sobek" atau "rusak karena ditarik", melainkan ratstsa, lapuk oleh waktu itu sendiri. Karena begitulah dunia: ia tidak perlu "dirusak" oleh sesuatu dari luar. Cukup biarkan waktu berjalan, dan dunia akan melapuk dengan sendirinya.
Jika kita jujur dengan diri sendiri, tidak ada yang benar-benar bisa membantah metafora ini. Kekayaan, jabatan, kesehatan, bahkan nama besar, semuanya adalah pakaian yang sedang kita kenakan saat ini. Dan cepat atau lambat, semua itu akan kita tanggalkan juga.
Kata kunci transliterasi: Ad-dahru kal bahri lā yanfakku dzā kadarin, luma', 'awaqib, hirs, thama', ghurur, sādir, muzwarr, shalaf, da' mā yuriibu, tsawbun sawfa takhla'uh, raththa yankhal'i.
Baca juga:
* Kumpulan Mahfudzot Kelas 1 - 5 KMI Gontor
* Kumpulan Muthala’ah KMI Gontor Berbagai Judul


Posting Komentar untuk " Mahfudzot Kelas 5 KMI Gontor Beserta Arti dan Penjelasannya (9)"