Mahfudzot Kelas 5 KMI Gontor Beserta Arti dan Penjelasannya (8)
لِمَعْرُوْفٍ الرَصَـافِي (المُتَوَفَّى سَنَةَ ١٩٤٥ م)
شَاعِـرٌ عِرَاقِيٌّ يُعَدُّ مِنْ فُحُوْلِ الشُّعَرَاءِ فِي العَصْرِ الحَدِيْثِ
Karya Ma'ruf ar-Rasafi (Wafat Tahun 1945 M)
Seorang Penyair Irak yang Termasuk Penyair Terbaik di Era Modern
لاَ يَبْلُغُ المَـرْءُ مُنْتَهَى أَرَبِهِ # إِلاَّ بِعِلْمٍ يَجِدُّ فِي طَلَبِهِ
فَأْوِ إِلَى ظِلِّهِ تَعِشْ رَغَـدًا # عَيْشًا أَمِيْنًا مِنْ سُوْءِ مُنْقَلَبِهِ
وَاتْعَبْ لَهُ تَسْتَرِحْ بِهِ أَبَدًا # فَرَاحَةُ المَرْءِ مِنْ جَنَى تَعَبِهِ
وَإِنَّ لِلْعِلْمِ فِي العُلاَ فَلَكًا # وَكُلُّ المَعَالِي تَدُوْرُ فِي قُطُبِهِ
وَاسْعَ إِلَيْهِ بِعَزْمِ ذِي جَلَدٍ # مُصَمَّمِ الرَّأْيِ وَغَيْرُ مُضْطَرِبِهِ
وَابْذُلْ لَهُ مَا مَلَكْتَ مِنْ نَشَبٍ # فَالْعِلْمُ أَبْقَى لِلْمَرْءِ مِنْ نَسَبِهِ
وَاطْرَحِ المَجْدَ غَيْرَ طَارِقِهِ # وَاجْتَنِبِ الفَخْرَ غَيْرَ مُكْتَسِبِهِ
مَا أَبْعَدَ الخَيْرَ عَنْ فَتىً كَسَلٍ # يَسْرَحُ فِي لَهْوِهِ وَفِي لَعِبِهِ
Terjemahan:
Tidaklah seseorang akan sampai kepada puncak cita-citanya,
kecuali dengan ilmu yang ia kejar dengan sungguh-sungguh.
Maka berlindunglah di bawah naungannya, niscaya kau hidup dengan nyaman,
dalam kehidupan yang aman dari buruknya nasib.
Bersusah payahlah untuknya, maka kau akan beristirahat darinya selamanya,
karena ketenangan seseorang lahir dari buah jerih payahnya.
Sesungguhnya ilmu memiliki cakrawala tersendiri di antara yang mulia,
dan seluruh kemuliaan berputar di sekitar porosnya.
Raihlah ia dengan tekad yang kokoh dan gigih,
dengan pendirian yang bulat dan tidak goyah.
Korbankan untuknya apa pun yang kau miliki dari harta,
karena ilmu lebih abadi bagi seseorang dibanding nasab keturunannya.
Tinggalkanlah kemuliaan yang tidak kau tempuh dengan benar,
dan jauhilah kebanggaan yang tidak kau peroleh dengan usaha.
Alangkah jauhnya kebaikan dari seorang pemuda yang malas,
yang menghabiskan waktunya dalam kesenangan dan permainan belaka.
Syarah / Penjelasan dan Kesimpulan:
Tentang Ma'ruf ar-Rasafi
Ma'ruf Abdulgani ar-Rasafi (1875–1945 M) adalah salah satu penyair besar Arab dari Iraq yang hidup di masa transisi antara kejayaan Turki Usmani dan era kolonialisme Barat. Ia lahir di Baghdad dan menempuh pendidikannya di sana, sebelum akhirnya banyak merantau ke Istanbul, Damaskus, dan berbagai kota lainnya untuk mengajar dan berkarya.
Nama ar-Rasafi sendiri diambil dari nama sebuah kawasan di tepi Timur Sungai Tigris (Dijlah) di Baghdad. Dalam tradisi sastra Arab, ar-Rasafi dikenal sebagai penyair yang menyuarakan kemanusiaan, kritik sosial, dan semangat keilmuan, sehingga tak heran jika ia dianggap sebagai salah satu sastrawan terbaik di era modern.
Bait Pertama: Ilmu adalah Jalan Satu-satunya
Tidaklah seseorang akan sampai kepada puncak cita-citanya, kecuali dengan ilmu yang ia kejar dengan sungguh-sungguh.
Kata muntahā arabih (مُنْتَهَى أَرَبِهِ) berarti "ujung atau puncak dari keinginan dan cita-citanya." Artinya bukan sekadar cita-cita biasa, melainkan puncak tertinggi dari apa yang seseorang impikan. Dan ar-Rasafi menegaskan bahwa satu-satunya jalan ke sana adalah dengan ilmu, bukan dengan keberuntungan, bukan pula warisan, maupun koneksi (orang dalam).
Mungkin ada kalanya kita tergoda untuk berpikir bahwa kesuksesan bisa datang dari jalan pintas. Tapi sejarah membuktikan sebaliknya, bahwa mereka yang benar-benar "sampai" adalah mereka yang mengejar ilmu dengan jiddan (sungguh-sungguh), bukan dengan usaha yang dilakukan setengah hati.
Bait Kedua dan Ketiga: Ilmu sebagai Perlindungan dan Investasi Jangka Panjang
Maka berlindunglah di bawah naungannya... Bersusah payahlah untuknya, maka kau akan beristirahat darinya selamanya.
Ar-Rasafi menggunakan kata ẓillih (ظِلِّهِ) yang berarti "naungan" atau "teduhnya." Ini sebenarnya adalah metafora, di mana ilmu digambarkan seperti pohon rindang yang melindungi dari terik kehidupan. Oleh karena itu, seseorang yang memiliki ilmu tidak akan mudah goyah oleh kerasnya zaman.
Kemudian di bait ketiga muncul salah satu kalimat yang paling sering dikutip oleh banyak orang dari syair ini, yaitu: "Fa rāhatul mar'i min janā ta'abih", yang artinya ketenangan seseorang lahir dari buah jerih payahnya sendiri. Ini bukanlah sekadar kata-kata indah saja, ini adalah prinsip hidup. Tidak ada istirahat yang benar-benar nikmat kecuali istirahat yang datang setelah usaha yang sungguh-sungguh.
Bait Keempat: Ilmu sebagai Poros Semua Kemuliaan
Sesungguhnya ilmu memiliki cakrawala tersendiri di antara yang mulia, dan seluruh kemuliaan berputar di sekitar porosnya.
Kata falak (فَلَكاً) berarti cakrawala atau orbit benda-benda langit. Dan quṭub (قُطُبِ) berarti poros atau sumbu. Bayangkan bumi yang berputar: ia membutuhkan poros agar rotasinya stabil. Ar-Rasafi mengatakan bahwa ilmulah poros dari semua kemuliaan, artinya segala hal yang agung dan bermartabat, semuanya berporos pada ilmu.
Ini sesuai sekali dengan kondisi umat Islam hari ini. Kemunduran peradaban Islam sering kali bersumber dari satu akar permasalahan yang sama, yaitu melemahnya budaya keilmuan. Kita tahu, di masa keemasannya, dunia Islam adalah pusat sains, filsafat, kedokteran, dan matematika dunia, karena saat itu ilmu benar-benar dijadikan sebagai quṭub, poros utama peradaban. Namun ketika budaya keilmuan ini melemah, maka saat itulah kemunduran peradaban Islam perlahan-lahan dimulai.
Bait Kelima: Modal Utama adalah Tekad, Bukan Bakat
Raihlah ia dengan tekad yang kokoh dan gigih, dengan pendirian yang bulat dan tidak goyah.
Kata jalad (جَلَدٍ) berarti ketangguhan atau ketabahan, sementara muṣammamur ra'yi (مُصَمَّمِ الرَّأْيِ) berarti "yang membulatkan tekad." Di sini Ar-Rasafi tidak berbicara soal kecerdasan bawaan atau bakat alami, ia berbicara soal azm (عَزْمٍ), yaitu tekad. Jadi dapat dikatakan bahwa ini adalah semacam kabar baik bagi siapapun yang merasa tidak berbakat, bahwasanya ilmu itu terbuka untuk semua orang yang mau bersungguh-sungguh.
Dalam tradisi pesantren, prinsip ini sudah tertanam lewat mahfudzot:
مَنْ جَدَّ وَجَدَ، وَمَنْ يَزْرَعْ يَحْصُدْ
"Siapa yang bersungguh-sungguh, ia akan menemukan (apa yang ia cari); dan siapa yang menanam, ia akan menuai (hasilnya)."
Bait Keenam: Ilmu Lebih Abadi dari Nasab
Korbankan untuknya apa pun yang kau miliki dari harta, karena ilmu lebih abadi bagi seseorang dibanding nasab keturunannya.
Kata nasab (نَسَبٍ) berarti garis keturunan atau silsilah. Di masyarakat Arab, atau bahkan di Indonesia, nasab masih menjadi kebanggaan tersendiri. Keturunan ulama, keturunan kiai, keturunan bangsawan, semuanya dihormati. Tapi ar-Rasafi mengingatkan bahwa nasab itu bisa pudar, sementara ilmu yang dimiliki seseorang lah yang akan terus hidup, bahkan setelah ia wafat sekalipun.
Hal ini sejalan dengan hadis Nabi SAW:
إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
"Apabila seseorang meninggal dunia, terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim No. 1631)
Ilmu adalah satu dari tiga warisan yang tidak akan berhenti mengalir pahalanya bahkan ketika seseorang sudah meninggal dunia.
Bait Ketujuh: Kemuliaan Harus Diraih, Bukan Diklaim
Tinggalkanlah kemuliaan yang tidak kau tempuh dengan benar, dan jauhilah kebanggaan yang tidak kau peroleh dengan usaha.
Ini adalah sindiran yang cukup tajam. Ar-Rasafi seolah ingin mengatakan: jangan merasa mulia kalau kemuliaan itu bukan hasil usahamu sendiri. Jangan bangga dengan pencapaian orang lain yang kau klaim sebagai milikmu. Kebanggaan yang sejati hanya lahir dari sesuatu yang benar-benar kau kerjakan dan kau peroleh dengan tangan sendiri.
Jika kita mesti jujur dengan diri sendiri, sindiran ini terasa sangat sesuai di era media sosial sekarang ini, di mana banyak orang berlomba menampilkan pencapaian yang tidak sepenuhnya mereka raih sendiri, atau bangga dengan label dan gelar yang belum tentu mencerminkan kemampuan diri yang sebenarnya.
Bait Kedelapan: Penutup
Alangkah jauhnya kebaikan dari seorang pemuda yang malas, yang menghabiskan waktunya dalam kesenangan dan permainan belaka.
Ar-Rasafi menutup syairnya dengan ungkapan "mā ab'ada al-khayra 'an fatā kasalin", yang artinya “betapa jauhnya kebaikan dari pemuda yang malas”. Kata kasalin (كَسَلٍ) berarti malas, dan yarsahu (يَسْرَحُ) berarti berkeliaran atau terombang-ambing tanpa arah. Salah satu contoh dari bait ini adalah seorang pemuda yang menghabiskan hari-harinya dengan hiburan dan permainan, dan kebaikan pun menjauh darinya perlahan-lahan.
Bait ini adalah penutup yang epik untuk seluruh syair. Setelah ar-Rasafi membangun argumen tentang pentingnya ilmu, bait demi bait, ia menutupnya dengan gambaran suram bagi orang yang tidak menghargai ilmu, seakan-akan ia berkata: “inilah nasib pemuda yang memilih untuk tidak mengejar ilmu”.
Kata kunci transliterasi: Lā yablughul mar'u muntahā arabih, fa'wi ilā ẓillih, rāhatul mar'i min janā ta'abih, falak, quṭub, mā ab'adal khayra 'an fatā kasalin, nasab, azm, jalad.
Baca juga:
* Kumpulan Mahfudzot Kelas 1 - 5 KMI Gontor
* Kumpulan Muthala’ah KMI Gontor Berbagai Judul


Posting Komentar untuk " Mahfudzot Kelas 5 KMI Gontor Beserta Arti dan Penjelasannya (8)"