Mahfudzot Kelas 1 KMI Gontor Beserta Syarah Penjelasannya (51-60)



51. خَيْرُ الأُمُوْرِ أَوْسَاطُهَا
Sebaik-baik perkara itu adalah pertengahannya (yang sedang saja).

Maksud dari Mahfuzhat ini adalah bahwa kita hendaklah menjauhi Ifrath (Terlalu berlebihan) dan Tafrith (Terlalu kurang) dalam setiap hal. Misalnya, berlebihan dalam beribadah sampai mengabaikan hak-hak tubuh untuk beristirahat bukanlah hal baik, demikian pula terlalu meremehkan ibadah juga bukanlah hal yang baik.

Ingatlah hadits Nabi SAW yang menceritakan tentang salah seorang sahabat yang menyebutkan bahwa ia semalaman tidak akan tidur demi sholat Sunnah, yang lainnya berkata dia akan selalu berpuasa tiap hari, sementara sahabat yang lain mengatakan bahwa ia akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah.

Ternyata komentar Rasulullah SAW atas perkataan mereka ketika itu adalah: “Sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya, akan tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan aku pun tidur, dan aku menikahi wanita. Siapa yang membenci sunnahku, maka dia bukan termasuk golonganku”. (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

Artinya kita harus seimbang dalam segala hal, tidak terlalu berlebihan, dan tidak pula terlalu kurang atau meremehkan.



52. لِكُلِّ مَقَامٍ مَقَالٌ وَلِكُلِّ مَقَالٍ مَقَامٌ
Tiap-tiap tempat ada kata-katanya yang tepat, dan pada setiap kata ada tempatnya yang tepat.

Dalam bertutur kata, ada seni yang harus kita perhatikan. Selain memastikan bahwa apa yang kita ucapkan itu adalah sesuatu yang benar, kita juga harus memastikan bahwa perkataan itu juga disampaikan di tempat dan waktu yang tepat.



53. إِذَا لَمْ  تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
Apabila engkau tidak malu, maka berbuatlah sekehendakmu (apa yang engkau kehendaki).

Mahfuzhat ini diambil dari Hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dengan redaksi lengkap sebagai berikut:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى، إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ.  [رواه البخاري]
Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya ungkapan yang telah dikenal orang-orang dari ucapan Nabi-Nabi terdahulu adalah:  Jika engkau tidak malu perbuatlah apa yang engkau suka.” (HR. Bukhari).

Adapun maksud dari hadits tersebut adalah bahwa seseorang hendaklah selalu memiliki rasa malu (untuk berbuat hal-hal yang tidak baik), karena tanpa adanya rasa malu ini maka seseorang akan bebas berbuat semaunya tanpa peduli apakah hal itu baik ataupun buruk.

Selain itu, makna yang terkandung adalah bahwa rasa malu adalah sebagian dari hal yang disepakati sejak masa Nabi terdahulu hingga masa Rasulullah SAW. Karena itu, dalam hadis Nabi yang lain disebutkan juga bahwasanya malu adalah salah satu cabang dari Iman.

Namun perlu diperhatikan juga bahwa rasa malu ini hendaknya tidak menghalangi kita untuk melakukan hal yang benar, karena di dalam Al-Quran Allah SWT berfirman, yang artinya: “ Dan Allah tidak malu dari kebenaran “ (Al-Ahzab : 53).



54. لَيْسَ العَيْبُ لِمَنْ كَانَ فَقِيْرًا بَلِ العَيْبُ لِمَنْ كَانَ بَخِيْلًا
Bukanlah cela itu bagi orang yang miskin, tapi cela itu terletak pada orang yang kikir.

Iya, kefakiran bukanlah hal yang tercela sepanjang orang itu berusaha untuk mendapatkan rezeki yang halal, karena memang tiap orang sudah ditentukan nasib dan rezekinya oleh Allah SWT.

Adapun kebakhilan atau kekikiran, maka ia adalah perilaku yang amat tercela, bukan hanya dibenci oleh Allah, namun juga dibenci oleh manusia.



55. لَيْسَ اليَتِيْمُ الَّذِي قَدْ مَاتَ وَالِدُهُ بَلِ اليَتِيْمُ يَتِيْمُ العِلْمِ وَالأَدَبِ
Bukanlah anak yatim itu yang telah meninggal orang tuanya, tapi (sebenarnya) yatim itu adalah yatim ilmu dan budi pekerti.

Maksudnya adalah bahwa orang yang yatim (tidak memiliki) ilmu dan budi pekerti itu sebenarnya nasibnya lebih menyedihkan dari orang yang kehilangan orang tuanya. Sebab kehilangan orang tua, walaupun ia adalah hal yang sangat menyedihkan namun ia bukanlah sesuatu yang aib. Adapun kehilangan ilmu dan budi pekerti, maka ia adalah hal yang sangat menyedihkan, sekaligus sebuah aib yang harus segera dibenahi.



56. لِكُلِّ عَمَلٍ ثَوَابٌ وَلِكُلِّ كَلَامٍ جَوَابٌ
Setiap pekerjaan itu ada balasannya, dan setiap perkataan itu ada jawabannya.

Artinya tidak ada hal yang sia-sia, semua yang kita lakukan, baik berupa pekerjaan maupun berupa perkataan pasti akan mendapat ganjaran. Adapun makna yang lain dari Mahfuzhat di atas adalah tak ada pertanyaan yang tak memiliki jawaban, dan tak ada masalah yang tak punya solusi.



57. وَعَامِلِ النَّاسَ بِمَا تُحِبُّ مِنْهُمْ دَائِماً
Dan selalu pergaulilah orang-orang dengan apa-apa yang engkau sukai daripada mereka.

Maksudnya adalah kita harus memperlakukan orang-orang dengan perlakuan yang kita ingin mereka lakukan itu kepada kita. Artinya jika kita ingin orang-orang berbuat baik kepada kita maka kita juga harus berbuat baik kepada mereka. Demikian pula sebaliknya, jika kita tidak ingin mendapatkan perlakukan yang tidak kita suka dari mereka, maka janganlah kita melakukan sesuatu yang tidak mereka sukai.

Contoh nyatanya adalah: jika kita ingin dihormati, maka hormatilah orang lain. Jika kita tak suka dicandai berlebihan, maka janganlah bercanda berlebihan dengan orang lain, dan seterusnya.



58. هَلَكَ امْرُؤٌ لَمْ يَعْرِفْ قَدْرَهُ
Hancurlah seseorang yang tidak tahu dirinya sendiri.

Seorang pelajar yang terus bermain-main dan berleha-leha padahal ia tahu bahwa ia akan segera menghadapi sebuah ujian akhir, adalah contoh dari orang yang “tidak mengetahui kadar dirinya”. Artinya ia tidak tahu bahwa dirinya masih bodoh dan perlu belajar.

Dalam hidup ini, kita harus selalu bermuhasabah diri, introspeksi diri, dan mengenal kelebihan dan kekurangan diri kita. Kita harus selalu membekali diri kita dengan apa yang kita butuhkan di kemudian hari. Jika tidak, maka kita tidak akan mampu bertahan menghadapi tantangan-tantangan yang terkadang datang tiba-tiba di kemudian hari.



59. رَأْسُ الذُّنُوْبِ الكَذِبُ
Kepala dari segala dosa itu, adalah kebohongan.

Biasanya, orang yang melakukan sebuah kebohongan akan berusaha untuk menutupi kebohongan itu, dan tak jarang jalan yang ditempuh adalah dengan menutup kebohongan itu dengan kebohongan-kebohongan yang lainnya. Sehingga satu kesalahan  itu pun membuahkan kesalahan-kesalahan baru sehingga ia pun menjadi sebuah dosa yang besar.



60. مَنْ ظَلَمَ ظُلِمَ
Barang siapa menzalimi (orang lain) niscaya akan dizalimi (dibalas).

Tidak ada sesuatu pun amal perbuatan manusia yang tidak mendapat balasan. Apalagi kalau hal ini adalah sebuah kezaliman, pasti akan dibalas oleh Allah, cepat atau lambat. Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ ظَلَمَ قِيدَ شِبْرٍ طُوِّقَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ سَبْعِ أَرَضِينَ
Siapa yang menzalimi seseorang dalam hal sejengkal tanah, pada hari kiamat kelak ia akan dikalungi tujuh bumi.‘ (HR Al-Bukhari dan Muslim).”

Dalam sebuah hadis lainnya Rasulullah SAW juga bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللَّه ﷺ: إِنَّ اللَّه لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ فَإِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ، ثُمَّ قَرَأَ: وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ [هود:102] - (مُتَّفَقٌ عَلَيهِ)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah akan menunda siksaan bagi orang yang berbuat zalim. Apabila Allah telah menghukumnya, maka Dia tidak akan pernah melepaskannya." Kemudian Rasulullah membaca ayat yang berbunyi: 'Begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu sangat pedih dan keras.' (Qs. Hud (11): 102).

Naudzubillah min dzalik, semoga kita semua terhindar dari kezaliman orang lain dan juga terhindar dari berbuat kezaliman terhadap orang lain. Aamiin Yaa Rabb.


Baca Juga:

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Mahfudzot Kelas 1 KMI Gontor Beserta Syarah Penjelasannya (51-60)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel