Mahfudzot Kelas 5 KMI Gontor Beserta Arti dan Penjelasannya (10)
المُقْتَطَفَــــاتُ
Al-Muqtathafat — Kutipan Karya-Karya
اُطْلُبْ فِي الْحَيَاةِ الْعِلْمَ وَالْمَالَ وَحُبَّ الرِّيَاسَةِ عَلَى النَّاسِ لِأَنَّهُمْ بَيْنَ خَاصٍّ وَعَامٍّ, الْخَاصَّةُ تُفَضِّلُكَ بِالْعِلْمِ وَالْعَامَّةُ تُفَضِّلُكَ بِالْمَالِ
مَنْ عَامَلَ النَّاسَ فَلَمْ يَظْلِمْهُمْ وَحَدَّثَهُمْ فَلَمْ يَكْذِبْهُمْ وَوَعَدَهُمْ فَلَمْ يُخْلِفْهُمْ فَهُوَ مِمَّنْ كَمُلَتْ مُرُوءَتُهُ
مَنْ لَمْ يَقُمْ لِأَدَاءِ وَاجِبِهِ نَحْوَ وَطَنِهِ وَدِينِهِ حَذَرًا مِنَ التَّعَبِ أَوِ الْمَوْتِ فَلَيْسَ يَعِيشُ لِأَهْلِهِ لِأَنَّ الْمَوْتَ آتٍ لَابُدَّ مِنْهُ وَلَكِنَّ النَّفْسَ الشَّرِيفَةَ لَا تَمُوتُ
Terjemahan:
Carilah dalam hidup ini ilmu, harta, dan kecintaan untuk memimpin manusia, karena manusia itu terbagi antara orang khusus dan orang awam; orang khusus akan mengutamakanmu karena ilmumu, sedangkan orang awam akan mengutamakanmu karena hartamu.
Barangsiapa bermuamalah dengan manusia namun tidak menzalimi mereka, berbicara kepada mereka namun tidak berdusta kepada mereka, dan berjanji kepada mereka namun tidak mengingkari, maka dialah orang yang telah sempurna muru'ahnya (harga dirinya).
Barangsiapa tidak menunaikan kewajibannya terhadap tanah air dan agamanya karena takut lelah atau takut mati, maka sesungguhnya ia tidak hidup untuk keluarganya, sebab kematian itu pasti datang, tak seorang pun bisa mengelak darinya, akan tetapi jiwa yang mulia tidak akan pernah benar-benar mati.
Syarah / Penjelasan dan Kesimpulan:
Tentang Al-Muqtathafat
Berbeda dari mahfuzhat-mahfuzhat sebelumnya yang berupa syair panjang dengan nama penyair dan tahun wafatnya, bagian ini disebut al-Muqtathafat, yang secara harfiah berarti "kutipan-kutipan yang dipetik". Ini adalah kumpulan ucapan hikmah pendek, ringkas, padat, tanpa nama pengarang tertentu, seperti mutiara yang dipetik dari lautan kebijaksanaan orang-orang terdahulu dan disusun untuk diambil pelajarannya oleh siapa saja yang membacanya.
Justru karena pendek itulah kalimat-kalimat ini terasa lebih tajam. Tidak ada bait, tidak ada rima, tidak ada metafora yang berlapis. Yang ada hanyalah kalimat lugas yang langsung menghujam ke inti persoalan, dan barangkali itu sebabnya jenis kalimat semacam ini bertahan dari generasi ke generasi meski tak seorang pun ingat siapa yang pertama kali mengucapkannya.
Kutipan Pertama: Dua Jalan Menuju Dihargai Manusia
Carilah dalam hidup ini ilmu, harta, dan kecintaan untuk memimpin manusia, karena manusia itu terbagi antara orang khusus dan orang awam; orang khusus akan mengutamakanmu karena ilmumu, sedangkan orang awam akan mengutamakanmu karena hartamu.
Kalimat ini membagi manusia menjadi dua kelompok besar: khashshah (خَاصَّة), yaitu kalangan khusus, orang-orang yang berpikir mendalam dan mampu menilai sesuatu dari substansinya; dan 'ammah (عَامَّة), yaitu kalangan awam, yang umumnya menilai seseorang dari apa yang tampak di permukaan.
Ini bukan kalimat yang meremehkan orang awam, dan juga bukan kalimat yang mengagungkan ilmu di atas segalanya tanpa syarat. Ia justru sebuah potret jujur tentang bagaimana masyarakat bekerja. Seorang yang berilmu akan dihormati oleh orang-orang yang mampu mengenali kedalaman ilmunya, sementara seorang yang berharta akan disegani bahkan oleh orang yang tidak pernah menanyakan dari mana dan untuk apa hartanya. Kenyataan inilah yang membuat sebagian orang berlomba mengejar harta semata, padahal penghormatan yang dibangun oleh ilmu jauh lebih tahan lama, karena ia melekat pada diri, bukan pada apa yang dimiliki.
Rasulullah SAW sendiri bersabda:
مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
"Barangsiapa menginginkan dunia, maka wajib baginya dengan ilmu. Dan barangsiapa menginginkan akhirat, maka wajib pula baginya dengan ilmu." (HR. Bukhari dan Muslim)
Menariknya, hadits ini tidak menyebut harta sama sekali sebagai jalan menuju dunia maupun akhirat, ia menyebut ilmu untuk keduanya. Seolah mengoreksi kutipan di atas: harta memang bisa membuat orang awam mengutamakanmu, tetapi hanya ilmu yang bisa membuatmu benar-benar layak diutamakan, baik oleh manusia yang khusus maupun untuk bekal yang kekal.
Kutipan Kedua: Tiga Hal yang Menyempurnakan Harga Diri
Barangsiapa bermuamalah dengan manusia namun tidak menzalimi mereka, berbicara kepada mereka namun tidak berdusta kepada mereka, dan berjanji kepada mereka namun tidak mengingkari, maka dialah orang yang telah sempurna muru'ahnya.
Kata muru'ah (مُرُوءَة) sering diterjemahkan sebagai "harga diri" atau "kehormatan diri", tetapi maknanya lebih dalam dari itu. Muru'ah adalah keutuhan karakter seseorang, kesesuaian antara ucapan dan perbuatan, antara apa yang ia tampakkan dan apa yang sebenarnya ada dalam dirinya. Orang yang memiliki muru'ah adalah orang yang tetap menjaga kehormatan diri meskipun tidak ada yang mengawasi.
Kutipan ini menyusun tiga syarat muru'ah yang sangat konkret: tidak menzalimi ketika berurusan dengan orang lain, tidak berdusta ketika berbicara, dan tidak mengingkari ketika berjanji. Tiga hal ini terdengar sederhana, tetapi justru karena sederhana itulah banyak orang gagal menjaganya secara konsisten.
Yang menarik, tiga hal ini adalah kebalikan tepat dari tanda-tanda kemunafikan yang disebutkan Rasulullah SAW dalam haditsnya:
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
"Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila diberi amanah ia berkhianat." (HR. Bukhari dan Muslim)
Jika hadits ini menggambarkan tiga pintu menuju kemunafikan, kutipan al-Muqtathafat ini menggambarkan tiga pintu keluar darinya. Muru'ah, pada akhirnya, bukan sekadar soal menjaga nama baik di mata orang lain, melainkan soal menjaga kejujuran diri sendiri di hadapan Allah, meski tak seorang pun tahu.
Kutipan Ketiga: Hidup yang Sesungguhnya Adalah Hidup yang Berarti
Barangsiapa tidak menunaikan kewajibannya terhadap tanah air dan agamanya karena takut lelah atau takut mati, maka sesungguhnya ia tidak hidup untuk keluarganya, sebab kematian itu pasti datang, tak seorang pun bisa mengelak darinya, akan tetapi jiwa yang mulia tidak akan pernah benar-benar mati.
Kutipan ini ditutup dengan sebuah paradoks yang indah: "kematian pasti datang, tetapi jiwa yang mulia (an-nafs asy-syarifah) tidak akan pernah mati." Di sini penulisnya seakan membedakan antara dua jenis kematian. Ada kematian jasad, yang tidak bisa dihindari siapa pun, dan ada "kematian" makna hidup, yang justru menimpa orang yang hidup lama tetapi tidak pernah benar-benar berbuat apa-apa untuk agama dan tanah airnya karena terlalu takut lelah, terlalu takut rugi, atau terlalu takut mati.
Allah SWT berfirman:
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ
"Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh." (QS. An-Nisa: 78)
Jika kematian jasad memang sudah menjadi ketetapan yang tak bisa ditawar, mengapa sebagian orang masih memilih untuk hidup dalam ketakutan, menghindari setiap tanggung jawab yang terasa berat, hanya demi menunda sesuatu yang pada akhirnya pasti datang juga? Kutipan ini seolah mengajak kita merenung: jika toh kematian tidak bisa dihindari, bukankah lebih baik menjemputnya dalam keadaan telah menunaikan kewajiban, daripada menjemputnya dalam keadaan telah menyia-nyiakan hidup karena rasa takut yang sia-sia?
Kata kunci transliterasi: Al-Muqtathafat, khashshah, 'ammah, muru'ah, an-nafs asy-syarifah, man arada ad-dunya fa'alaihi bil 'ilm, ayatul munafiqi tsalatsun.
Baca juga:
* Kumpulan Mahfudzot Kelas 1 - 5 KMI Gontor
* Kumpulan Muthala’ah KMI Gontor Berbagai Judul


Posting Komentar untuk "Mahfudzot Kelas 5 KMI Gontor Beserta Arti dan Penjelasannya (10)"